Kabar soal kenaikan harga bahan pokok belakangan ini memang bikin pusing tujuh keliling. Hampir setiap hari media memberitakan kenaikan harga di berbagai sektor. Dan yang paling terasa dampaknya di kehidupan sehari-hari ya sektor makanan. Mulai dari ayam, beras, telur, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng, sampai gula pasir, semuanya ikut naik serentak.
Tapi coba tebak. Di tengah situasi sulit seperti ini, ada satu tempat makan yang justru kebanjiran pelanggan. Bukan sepi, bukan sepi pembeli. Justru ramai. Bahkan lebih ramai dari biasanya.
Tempat itu adalah Warung Bakakak Sampurasun Nusasari.

Warung makan sederhana dengan konsep lesehan khas Sunda ini, yang sudah berdiri sejak tahun 1994, kini semakin menjadi primadona. Bukan cuma warga lokal yang datang, tapi juga wisatawan dari luar kota, para pesohor, food vlogger terkenal, hingga pejabat pemerintahan. Bahkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, pernah datang langsung untuk meresmikan salah satu cabangnya.
Apa yang membuat warung ini begitu istimewa? Kenapa di saat harga pangan naik di mana-mana, mereka justru semakin laris? Apakah ada rahasia khusus yang tidak diketahui oleh pebisnis kuliner lainnya?
Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena menarik tersebut.
📊 Gambaran Besar: Seberapa Parah Sih Inflasi Kali Ini?
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang kehebatan Warung Bakakak Sampurasun, mari kita lihat dulu peta permasalahannya. Seberapa parah sebenarnya kenaikan harga pangan kali ini
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data resmi pada awal April 2026. Angkanya cukup mencengangkan. Pada bulan Maret 2026 saja, terjadi inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan. Kelihatannya kecil? Jangan salah. Kalau diakumulasi, dampaknya sangat terasa di dompet masyarakat.
Penyumbang terbesar inflasi kali ini adalah sektor makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini menyumbang andil inflasi sebesar 0,32 persen. Artinya, hampir 80 persen inflasi yang terjadi disebabkan oleh naiknya harga makanan dan minuman.
Lalu komoditas apa saja yang paling parah kenaikannya?
- Cabai rawit menjadi bintang utama dengan kenaikan harga paling drastis. Di beberapa daerah, harga cabai rawit tembus hingga Rp120.000 per kilogram. Bayangkan, satu kilogram cabai rawit harganya bisa setara dengan sepuluh porsi nasi padang plus lauk.
- Bawang merah dan bawang putih juga ikut melambung. Harga bawang merah mencapai Rp50.000 per kilogram di beberapa pasar tradisional. Sementara bawang putih tembus Rp45.000 per kilogram.
- Beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia juga tidak luput dari kenaikan. Harga beras medium naik dari Rp12.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Beras premium bahkan menyentuh angka Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
- Telur ayam ras, yang biasanya menjadi sumber protein murah, kini harganya menanjak. Telur yang dulu bisa dibeli Rp25.000 per kilogram, kini tembus Rp32.000 hingga Rp35.000 per kilogram.
- Ayam ras, sumber protein favorit masyarakat Indonesia, juga ikut meroket. Harga ayam ras yang biasanya stabil di Rp30.000-Rp32.000 per kilogram, kini tembus Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
- Minyak goreng, komoditas paling sensitif bagi ibu-ibu rumah tangga, juga masih dalam posisi tinggi. Meskipun pemerintah sudah berusaha melakukan berbagai intervensi, harga minyak goreng curah masih berada di kisaran Rp17.000-Rp18.000 per kilogram. Sedangkan minyak goreng kemasan sederhana tembus Rp22.000 per liter.
- Gula pasir juga tidak ketinggalan. Harga gula pasir yang biasanya Rp14.000-Rp15.000 per kilogram, kini tembus Rp17.000-Rp18.000 per kilogram.
Bayangkan, semua komoditas yang menjadi bahan baku utama usaha kuliner naik secara bersamaan. Dari mulai karbohidrat (beras), protein (ayam, telur), bumbu dapur (cabai, bawang), hingga minyak goreng. Lengkap sudah.
Ini bukan inflasi biasa. Ini adalah badai sempurna yang menghantam sektor kuliner dari segala arah.
😰 Dampaknya ke Pejuang Kuliner: Banyak yang Gulung Tikar
Logika sederhananya begini. Harga bahan baku naik. Biaya produksi membengkak. Kalau pebisnis kuliner menaikkan harga jual, pelanggan bisa kabur. Kalau mereka mempertahankan harga jual, modal tekor. Mati di ujung tanduk, hidup di ujung pisau.
Inilah dilema klasik yang dihadapi oleh hampir semua pelaku usaha di sektor makanan dan minuman (FnB). Dan sayangnya, tidak semua mampu bertahan.
Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Kuliner Indonesia (APKULIN), dalam tiga bulan terakhir saja, setidaknya 700 bisnis kuliner di Pulau Jawa terpaksa gulung tikar. Sebagian besar adalah usaha kecil dan menengah yang tidak memiliki daya tahan finansial yang kuat.
Mereka tutup bukan karena makanannya tidak enak. Bukan karena tempatnya tidak nyaman. Bukan karena pelayanannya buruk. Tapi karena mereka kalah oleh angka. Biaya produksi sudah melebihi pendapatan. Margin keuntungan yang biasanya tipis (sekitar 3-10 persen untuk usaha kuliner skala kecil), kini berubah menjadi minus.
Mereka tidak bisa menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan. Mereka tidak bisa menekan biaya karena semua komoditas naik. Mereka terjebak dalam situasi tidak ada jalan keluar.
Bahkan restoran-restoran besar yang memiliki modal lebih kuat pun ikut merasakan dampaknya. Banyak dari mereka yang terpaksa mengurangi jumlah karyawan (PHK), mengurangi porsi makanan (shrinkflation), atau mengganti bahan baku dengan yang lebih murah meskipun kualitasnya menurun.
Ada satu kisah menarik dari seorang pemilik rumah makan Padang di daerah Cibubur. Usahanya sudah berjalan selama 15 tahun. Setiap hari, dia biasa menjual 50 porsi nasi Padang. Namun setelah harga bahan baku naik, dia hanya mampu menjual 25-30 porsi per hari. Karena dia tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi, dia memilih tetap bertahan dengan harga lama. Akibatnya, pendapatannya turun drastis. Dalam dua bulan terakhir, dia sudah merugi puluhan juta rupiah. Jika kondisi ini terus berlanjut, dia mengaku terpaksa akan menutup usahanya yang sudah dia bangun selama satu setengah dekade.
Cerita seperti ini banyak terjadi di mana-mana. Dan ironisnya, ini baru awal. Inflasi diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
🦸♂️ Lalu Kenapa Warung Bakakak Sampurasun Justru Makin Laris?
Di tengah cerita suram tentang gulung tikarnya bisnis kuliner, ada satu nama yang justru bersinar terang.
Warung Bakakak Sampurasun Nusasari.
Warung yang memulai perjalanannya dari sebuah warung kecil di Subang pada tahun 1994 ini, kini bukan hanya bertahan, tapi berkembang pesat. Mereka baru saja membuka cabang keenam mereka di Soreang, Bandung, pada Februari 2026
Apa yang membuat mereka begitu istimewa?
Setelah menggali informasi dari berbagai sumber, mewawancarai pengelola, dan mengamati langsung strategi bisnis mereka, setidaknya ada lima rahasia utama yang membuat Warung Bakakak Sampurasun kebal terhadap inflasi.
🔑 Rahasia Pertama: Mereka Punya Peternakan Ayam Sendiri
Ini adalah rahasia terbesar yang mungkin tidak dimiliki oleh kebanyakan pebisnis kuliner lainnya.
Warung Bakakak Sampurasun tidak membeli ayam kampung dari pasar atau distributor. Mereka memelihara ayam kampung sendiri di peternakan mereka.
Konsep yang mereka usung adalah “dari kita untuk kita”.
Dengan sistem ini, Warung Bakakak Sampurasun tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga ayam di pasaran. Sementara restoran lain kewalahan karena harga ayam ras naik 0,06 persen (berdasarkan data BPS), Sampurasun tetap tenang dengan stok ayam kampung andalannya.
“Yang pertama, ayamnya ‘dari kita untuk kita’, imbah hasil usaha kita diolah jadi pakan ayam, sehingga tercipta siklus berkelanjutan,” jelas Sandi Saputra, pengelola cabang Lembang, dalam wawancaranya dengan salah satu media lokal.
Ini bukan sekadar strategi bisnis. Ini adalah sebuah sistem yang membuat mereka mandiri dan tidak mudah goyah oleh gejolak pasar.
🔥 Rahasia Kedua: Mereka Tidak Pakai Gas, Tapi Arang Kayu Buah-buahan
Rahasia kedua juga tidak kalah cerdik.
Sebagian besar restoran ayam bakar menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar untuk memanggang ayam. Akibatnya, ketika harga elpiji naik (dan elpiji juga termasuk komoditas yang ikut terkena inflasi), biaya produksi mereka ikut membengkak.
Warung Bakakak Sampurasun mengambil jalan berbeda.
Mereka tetap konsisten menggunakan arang kayu sebagai bahan bakar untuk membakar ayam. Bukan arang biasa, tapi arang dari kayu buah-buahan seperti kayu mangga, kayu rambutan, dan kayu durian.
Apa keuntungannya?
Pertama, arang kayu jauh lebih murah dibandingkan gas elpiji untuk kapasitas produksi yang sama. Kedua, harga arang kayu relatif lebih stabil karena tidak diatur oleh kebijakan pemerintah atau kartel distribusi seperti elpiji. Ketiga, aroma yang dihasilkan lebih harum dan khas, tidak bisa ditiru oleh ayam bakar yang dimasak dengan gas.
Bahkan, penggunaan arang kayu buah-buahan ini menjadi salah satu unique selling proposition (USP) yang membedakan Sampurasun dari kompetitornya. Banyak pelanggan yang datang justru karena penasaran dengan rasa ayam bakar yang menggunakan arang kayu buah-buahan.
“Rasanya beda, lebih gurih dan ada aroma smoky yang khas,” ujar salah satu pelanggan setia yang sudah lima tahun rutin makan di Sampurasun.
Dengan strategi ini, Sampurasun berhasil memangkas satu komponen biaya yang biasanya menjadi beban besar bagi restoran ayam bakar lainnya.
🏭 Rahasia Ketiga: Manajemen Rantai Pasok yang Efisien
Selain memiliki peternakan sendiri dan menggunakan arang kayu, Warung Bakakak Sampurasun juga menerapkan manajemen rantai pasok yang sangat efisien.
Mereka tidak membeli bahan baku dari tengkulak atau distributor yang mengambil untung berkali-kali lipat. Sebisa mungkin, mereka berusaha memotong rantai distribusi dan berhubungan langsung dengan petani atau produsen primer.
Contohnya untuk komoditas beras. Sampurasun membeli beras langsung dari petani di daerah Subang dan sekitarnya. Untuk cabai dan bawang, mereka menjalin kerjasama langsung dengan petani sayur di daerah Lembang dan Ciwidey. Untuk ikan gurame dan nila, mereka bermitra dengan petani ikan air tawar di daerah Ciamis dan Tasikmalaya.
Dengan memotong rantai distribusi, Sampurasun bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan restoran lain yang membeli dari pasar induk atau distributor. Selisihnya bisa mencapai 20-30 persen, terutama untuk komoditas yang fluktuatif seperti cabai.
Belum lagi, karena hubungan mereka sudah lama terjalin (beberapa sudah lebih dari satu dekade), mereka sering mendapatkan prioritas dan harga khusus dari para pemasok. Ini adalah keuntungan yang tidak bisa didapatkan oleh pendatang baru.
🤝 Rahasia Keempat: Target Pasar yang Jelas dan Konsisten
Warung Bakakak Sampurasun tahu persis siapa target pasar mereka.
Mereka tidak mencoba menjadi restoran fine dining yang mahal dan eksklusif. Mereka juga tidak mencoba menjadi warung tenda pinggir jalan yang super murah.
Target mereka adalah kelas menengah keluarga yang ingin menikmati makanan enak dengan harga terjangkau. Mereka ingin menjadi tempat di mana keluarga bisa makan bersama, anak-anak bisa bermain, dan semua orang bisa pulang dengan perut kenyang tanpa dompet jebol.
Dengan target pasar yang jelas ini, mereka bisa fokus pada apa yang penting:
- Kualitas rasa yang konsisten. Tidak boleh berubah, tidak boleh turun.
- Harga yang stabil. Pelanggan tidak perlu kaget setiap kali datang karena harga naik terus.
- Suasana yang nyaman untuk keluarga. Area lesehan, area bermain anak, parkir luas.
- Porsi yang mengenyangkan. Tidak ada pelanggan yang pulang dengan rasa kurang.
Ketika harga bahan baku naik, Sampurasun tidak serta-merta menaikkan harga jual. Mereka lebih memilih untuk menekan biaya di sisi lain (seperti dengan peternakan sendiri dan penggunaan arang kayu) atau menurunkan margin keuntungan sementara waktu.
ni adalah strategi jangka panjang yang sangat jarang dilakukan oleh pebisnis kuliner lain yang lebih fokus pada keuntungan jangka pendek.
Sandi Saputra, pengelola cabang Lembang, pernah menyatakan bahwa untuk empat orang makan paket lengkap di Sampurasun, pelanggan cuma perlu menyiapkan uang sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000. Padahal di tempat lain dengan kualitas serupa, harga bisa mencapai Rp350.000 hingga Rp400.000 untuk jumlah orang yang sama.
Wajar jika pelanggan memilih Sampurasun. Di tengah inflasi yang menggerus daya beli, orang akan semakin selektif memilih tempat makan. Mereka akan mencari tempat yang memberikan value for money terbaik. Dan Sampurasun adalah jawabannya.
🌍 Rahasia Kelima: Branding yang Kuat dan Cinta Produk Lokal
Rahasia terakhir mungkin tidak berhubungan langsung dengan inflasi, tapi sangat penting untuk menjelaskan mengapa Sampurasun semakin laris.
Warung Bakakak Sampurasun berhasil membangun branding yang kuat sebagai restoran Sunda autentik yang menjaga tradisi.
Nama “Bakakak” sendiri diambil dari kata dalam bahasa Sunda yang merujuk pada ayam kampung utuh yang dibakar tanpa dipotong-potong. Ini adalah tradisi kuliner Sunda yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Selain itu, Sampurasun juga konsisten menggunakan bumbu-bumbu tradisional seperti kencur, jahe, kunyit, lengkuas, dan serai. Tidak ada bumbu instan atau penyedap buatan yang berlebihan.
Mereka juga sangat mendukung produk lokal. Hampir semua bahan baku mereka berasal dari petani dan peternak di Jawa Barat. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal kebanggaan akan produk daerah sendiri.
Dukungan terhadap produk lokal ini juga membuat mereka disukai oleh masyarakat setempat. Banyak orang yang datang bukan hanya karena makanannya enak, tapi juga karena mereka bangga bahwa ada restoran Sunda yang bisa bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, yang hadir saat grand opening cabang Lembang, sempat memberikan apresiasi terhadap strategi dan komitmen Sampurasun.
“Ayam kampung sekarang memang lebih mahal daripada ayam negeri, tapi di sini dengan bumbu yang enak, harganya masih wajar dan ramah di kantong,” tandasnya usai mencicipi langsung menu andalan.
Dukungan dari pejabat pemerintah ini tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Dan ini membuktikan bahwa Sampurasun bukan sekadar warung makan biasa. Mereka sudah menjadi ikon kuliner di Jawa Barat.
Buktikan Sendiri!
adi, buat lo yang lagi bingung cari tempat makan yang enak, keluarga, dan ramah di kantong di tengah inflasi seperti sekarang, Warung Bakakak Sampurasun adalah jawabannya.
Bukan cuma karena makanannya enak. Bukan cuma karena suasananya nyaman. Tapi karena di balik semua itu, ada sistem dan strategi yang membuat mereka mampu bertahan, bahkan berkembang, di saat bisnis kuliner lain banyak yang gulung tikar.
Gak percaya? Datang aja langsung ke salah satu dari enam cabang mereka.
Lo bakal liat sendiri. Di tengah harga ayam, beras, cabai, bawang, telur, dan minyak goreng yang lagi mahal-mahalnya, pengunjung tetap antre. Bukan karena mereka gak punya pilihan lain. Tapi karena di sini, rasa, kualitas, dan keramahan harga bisa berjalan beriringan.
Yang lebih menarik lagi, sambil menikmati ayam bakakak yang gurih dan nasi liwet yang mengepul hangat, lo juga bisa belajar satu hal: bahwa bisnis yang dikelola dengan sistem yang tepat, fokus pada value, dan konsisten pada janji, tidak akan mudah tumbang oleh badai inflasi.
